MESIR – Pengurus Majelis Ulama In
donesia (MUI) Jateng belum lama ini bersilaturahmi dengan Deputy Grand Sheikh Al-Azhar Prof. Dr Ahmad al-Tayeb di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Rombongan dipimpin Ketua Umum Dr. KH. Ahmad Darodji, MSi, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Itqon, Bugen Tlogosari Semarang, KH. Kharis Shodaqoh, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Islah, Mangkang Kulon Semarang KH. Ahmad Hadlor Ikhsan dan Pengasuh Pondok Pesantren Fadhlul Fadhlan, Mijen, Semarang, KH. Fadholan Musyafa.
Menurut Kiai Darodji kunjungan muhibah ke Mesir bertujuan silaturahmi dengan ulama Al-Azhar dan Lembaga Fatwa Mesir (DarulIfta el-Masriyah) guna bertukar informasi dan pandangan keagamaan menghadapi berbagai tantangan yang beberapa tahun terakhir ini muncul di tengah-tengah umat Islam di seluruh dunia, termasuk terkait munculnya pemikiran radikalisme agama dan ekstrimisme. Dalam muhibah ke Mesir tersebut, rombongan juga bertemu dengan Duta Besar RI di Cairo, Helmy Fauzy untuk menyampaikan beberapa harapan termasuk upaya peningkatan kualitas wawasan kebangsaan mahasiswa Indonesia yang sedang menuntut ilmu di Mesir.
Dalam pertemuan dengan Deputy Grand Sheikh Al-Azhar Prof. Dr. Ahmad al-Tayeb, Kiai Darodji mengatakan, alumni Al-Azhar Mesir di Indonesia umumnya mampu menyampaikan risalah Islam yang diajarkan oleh Al-Azhar dengan metode yang sesuai dengan tuntutan masyarakat saat ini. “Seperti yang lama kita kenal, Al-Azhar dari masa ke masa mengajarkan Islam yang moderat, toleran jauh dari pemikiran radikal dan ekstrim”,’ katanya.
Pertemuan di Kantor Al-Azhar, Cairo, Mesir, dihadiri atas Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Cairo, Dr. Usman Syihab, MA. “Masyarakat muslim Indonesia, khususnya di Jawa Tengah sangat terbantu oleh para alumnus Al-Azhar. Dengan ilmu dan pengalaman selama belajar di Mesir mereka mampu menyampaikan dakwah dengan cara-cara yang simpatik dan tidak konfrontatif. Untuk itu, kami, MUI Jawa Tengah dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah secara umum, menyampaikan terima kasih dan apresiasi yang tinggi kepada Al-Azhar”, kata Kiai Ahmad Daroji.
Perhatian
Sementara itu, Deputy Grand Sheikh Al-Azhar Prof. Dr. Ahmad al-Tayeb pada kesempatan tersebut antara lain mengatakan, pihak Al-Azhar memberikan perhatian yang besar kepada Indonesia sebagai Negara muslim terbesar di dunia. Deputy Grand Sheikh menyatakan, mazhab Al-Azhar sangat terbuka, Al-Azhar selalu siap hidup berdampingan dengan kelompok apapun, Al-Azhar selalu menghormati pendapat dan hasil ijtihad aliran apapun dan selalu membuka pintunya untuk berdialog tanpa memilih dengan siapa dan kelompok apa.
Menanggapi keluhan calon mahasiswa Indonesia yang disampaikan Dr. KH Fadlolan Musyaffa, Lc., MA, Sekretaris Komisi Fatwa MUI Jateng yang juga alumni Al-Azhar tentang kerugian usia karena harus mengikuti kelas persiapan Bahasa Arab selama satu tahun sebelum kuliah, Sheikh Abbas mengatakan, jika memungkinkan Indonesia bekerjasama dengan Pusat Bahasa Al-Azhar untuk membuka lembaga Bahasa Arab. “Melalui lembaga ini, calon mahasiswa bias belajar bahasa sampai matang sebelum berangkat ke Mesir”.



