Kita terjemahkan pitutur itu dengan “Makan tidak makan asal kumpul”. Pitutur ini sangat populer. Sayang sebagian orang mengartikannya dengan keliru, bahkan ada yang sengaja atau tidak sengaja dalam jokenya terkesan melecehkan, stressingnya bukan pada waton kumpul tetapi pada ora mangan (tidak ada yang dimakan)karena hanya senang berkumpul.
Kesan yang kita peroleh dari obrolan mereka adalah bahwa orang-orang tua dulu etos kerjanya rendah, mereka hanya senang grubyak-grubyuk sehingga tidak memperoleh makan (kebutuhan jasmani) secara cukup, dan kita sebagai generasi penerus menjadi korban falsafah itu. Mari kita luruskan pemaknaan falsafah itu, bahkan kita jadikan motivasi untuk selalu menjaga persatuan dan kesatuan kita.
Menjaga persatuan dan kesatuan tidak kita artikan grubyak-grubyuk, meskipun ada saat di mana kita bertemu atau berkumpul. Kumpul atau berjamaah adalah langkah awal kita, pembuka jalan kita menuju koordinasi dan sinergi, kondisi yang selalu ingin kita kedepankan, karena sebagai manusia tidak mungkin ada yang bisa kita hasilkan tanpa bekerjasama dengan orang lain.
Jadi “waton kumpul” adalah strategi jangka panjang atau strategi seumur hidup agar kita dapat mewujudkan kebutuhan kita, termasuk kebutuhan jasmani, di antaranya pangan. Karena ketidak fahaman akan makna pitutur yang mengajarkan pentingnya berkumpul itulah maka ada usaha untuk memecah belah kita, kita diadu-domba supaya kita tidak menjadi kuat. Kita kenal dulu penjajah untuk bisa terus mencengkeram kita, melakukan politik atau strategi devide et impera, di samping memprovokasi agar kita selalu berhadapan dengan membesar-besarkan perbedaan. Nah jangan jatuh pada kesalahan yang sama, kita perkokoh persatuan dan kesatuan kita demi masa depan yang lebih baik.
Nabi s.a.w bersabda : ‘alaikum bil jama’ah (hendaknya kalian jaga persatuan dan kesatuan) karena kambing yang sendirianlah (memisahkan diri dari kelompoknya) yang akan dimangsa oleh serigala” Dan sabda beliau lagi yang artinya : “provokator tak akan masuk surga”. Nah masihkah kita ingin pecah ? DR KH Ahmad Darodji MSi, Ketua Umum MUI Jateng)


